Mencari Letak Keadilan Pencipta
bercermin dan banyaklah bercermin

Sibuk menata hati

Sibuk menata hati. Hapeku yang selama 2 tahun lebih menemani diriku raib diambil pencopet. Pagi itu aku berangkat ke Surabaya dengan hati kalut dan badan letih. Saat turun dari bis (lebih tepatnya angkutan kaum terpinggirkan) merk “indonesia”….. Ah, nomer dan hapeku hilang. Nomer teman, saudara dan semua yang penting dalam hidupku. Saat ini aku mengetik di bangku bis. Bis dengan nama yang sama! Indonesia. Entahlah aku tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan. Lalu bagaimana mungkin hapeku kembali? Mengumpat juga tidak mengembalikannya….teringat akan kata sang guru, ikhlas ilanggggg ngedumel juga ilang, mending ikhlas. Mataku yang tidak tertahankan oleh serangan capek mengakibatkan raibnya hapeku. Kuketik di atas bis ini dan semoga cerita ini bisa menjadi momentum pengingat akan perjalanan pertama kali ke kanwil ditjen perbendaharaan sendirian.

Maka dari itu, hukuman potong tangan WAJIB diterapkan jika ingin kehidupan manusia ini hidup. Kejam? ooo tentu tidak. jika tidak merasakan bagaimana sakitnya kecopetan, tentu kau akan mengatakan kejam. “Lalu bagaimana dengan dia dan keluarganya? Bukankah copet itu juga wajib menghidupi anak istrinya?”. Bodoh sekali jika kau tanyakan hal ini. Bukankah ada HAK ku yang terambil dan itu lebih dari harga 100 gram emas. Jika ketemu kelak di pengadilannya Alloh, (Kau maha menyaksikan ya Rob, aku ingin keadilanMu untukku. Aku ingin memotong tangan kirinya, dan mengambil jatah seberapa besar kebaikan yang seharusnya kuterima!)

Sekarang aku ikhlas, rela. Nggak rela toh hapeku pergi juga. Tidak ada gunanya menyesali ah andaikan, andaikan. Aku sudah bertindak hati2 dengan menaruh dompetku di tas yang ku bawa. Aku tidak berkata “untung dompetku ga ikut hilang”. Aku lebih dapat menerima jika si pencopet juga telah diizinkan oleh Alloh untuk mengambil hapeku [dan SEMUA kontak yang ada!] Astaghfirulloh, mudah mudahan aku kuat menjalani sisa hidup yang tidak seberapa lama ini. Toh waktu lahir dulu aku juga tidak membawa HApe, dan meskipun aku tidak pesan untuk dilahirkan, aku tetap saja diuji/diperingatkan/diazab olehNya.

Hampa terasa hidpku saat ini, disaat permasalahan datang bertubi-tubi….Ah! Tapi segera aku ingat bahwa di luar sana masih banyak yang merasakan betapa beratnya hidup, betapa para pengamen jalanan, bapak-bapak dengan wajah teduh karaoke membawakan lagu mengharap receh … dan pengamen lainnya juga sama. Apa yang salah dari kejadian ini. BANYAK! aku salah karena kurang hati-hati, aku salah aku salah aku salah dan aku salah. Yang terpenting aku tahu kejadian ini semoga lebih mendekatkan aku pada penciptaku yang tanpa ku pesan telah menjadikanku. Jika diizinkan memiih, tentu aku memilih untuk dicetak menjadi batu bata.

No Responses ke “Sibuk menata hati”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.